INDRAMAYU – Takmad Diningrat, pendiri sekaligus sesepuh Komunitas Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu, wafat pada Sabtu (28/3).
Rencananya, akan dimakamkan pada hari Minggu (29/3) ini di kompleks Bumi Segandu Desa Krimun Kecamatan Losarang, berdampingan dengan makam istrinya.
Menurut beberapa sumber, Takmad Diningrat diperkirakan sudah lebih dari 86 tahun pada tahun 2026, yang berarti ia lahir sekitar tahun 1940.
Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu adalah sebuah komunitas lokal yang mempercayai suatu ajaran bersama dan menetap di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.
Takmad adalah tokoh utama dan pendiri dari komunitas ini, yang awalnya bernama Perguruan Silat Serbaguna pada tahun 1973.
Konon kelompok komunitas ini mengklaim beranggotakan ratusan orang yang menyebar di berbagai daerah seperti Subang, Karawang, Cirebon serta Indramayu itu sendiri tepatnya di wilayah kecamatan Losarang.
Berbicara mengenai atar Belakang adanya Komunitas Suku Dayak Losarang Indramayu tidak lepas dari riwayat hidup pendirinya yaitu Pangeran Takmad Diningrat Gusti Alam.
Ki Takmad seorang guru pencak silat dan sebagai pemilik padepokan perguruan silat tersebut. Ki Takmad Mempunyai kemampuan bela diri yang bagus.
Takmad atau yang bernama lengkap Paheran Takmad Diningrat Gusti Alam lahir pada tanggal 10 Oktober 1940, di Desa Malang Semirang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu. Ki Takmad adalah anak laki-laki dari bapak Sardi.
Ki Takmad seorang yatim dalam kandungan, ayahnya meninggal ketika Ki Takmad masih dalam kandungan ibunya pada usia tiga bulan. Ki Takmad pun selama ini hidup dalam kemiskinan, tidak mampu untuk mengikuti pendidikan formal, tidak pernah belajar ilmu agama seperti anak lain seusianya, karena masalah ekonomi keluarganya.
Oleh sebab itu sekarang Ki Takmad tidak bisa membaca dan menulis, serta tidak begitu fasih dalam berbahasa Indonesia, hanya bisa menguasai bahasa Jawa Indramayu. Menginjak usia 15 tahun, Ki Takmad bekerja sebagai kuli pelabuhan yang berpindah-pindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Dia belajar ilmu bela diri di beberapa tempat yang disinggahinya.
Ketika kembali ke daerah asalnya, Ki Takmad menyunting seorang gadis dari desa Krimun dan kemudian memperistrinya. Ki Takmad menikah dengan Sarinih atau Sarini Nyi Ratu Giri Warna itu dikaruniai 11 orang anak, terdiri atas 3 anak perempuan, dan 8 anak laki-laki. Dari kesebelas orang anaknya, enam diantaranya telah meninggal dunia akibat terkena serangan penyakit.
Kemudian Ki Takmad mengembangkan serta mengasah ilmu yang dimilikinya, baik ilmu kebatinan maupun ilmu kanuragan. Awalnya Ki Takmad hanya mengajarkan istri dan anak-anaknya saja yang menjadi pengikutnya, akan tetapi kemudian ada juga beberapa warga masyarakat terdekat menjadi anggota perguruannya.
Komunitas ini mengenal beberapa prosesi ritual yang diwajibkan kepada anggotanya yakni ritual Mepe, Mepe merupakan Bahasa Jawa yang berarti berjemur.
Ritual ini tak lain adalah acara lanjutan dari prosesi kumkum yang telah dilakukan sebelumnya. Nantinya, peserta ritual akan menjemur dirinya di atas tanah sambil berbaring membentuk lingkaran dan menghadap matahari (demush)












