CIREBON – Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian berdampak nyata pada sektor peternakan di daerah.
Di Cirebon, pergerakan mata uang asing ini mulai memicu kenaikan harga komoditas sapi impor, khususnya yang didatangkan langsung dari Australia.
Kondisi tersebut diakui langsung oleh para pelaku usaha penggemukan dan penyalur sapi di sentra peternakan Batembat, Cirebon.
Ketergantungan yang tinggi pada pasokan luar negeri membuat para peternak kini harus memutar otak agar tidak gulung tikar.
Abung Usman, pemilik usaha Mr. Beef Batembat, mengungkapkan bahwa ketergantungan terhadap bakalan sapi impor membuat bisnisnya sangat sensitif terhadap perubahan nilai mata uang global.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya operasional otomatis membengkak.
“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini sangat mempengaruhi harga modal sapi impor dari Australia. Biaya tebus dan transportasinya otomatis ikut naik,” ujar Abung saat ditemui di salah satu kandangnya.
Sebagai salah satu pemain besar di wilayah tersebut, Abung saat ini mengelola tiga kandang sapi aktif yang berlokasi di kawasan Batembat.
Ketiga kandang miliknya tersebut menampung ratusan ekor sapi, mulai dari jenis sapi potong harian, pemenuhan kebutuhan daging sapi lokal, hingga persiapan untuk sapi kurban menjelang Hari Raya Idul Adha.
Abung menambahkan, pergerakan kurs yang terus menekan rupiah membuat harga beli bakalan (sapi hidup) dari Australia merangkak naik secara signifikan (kirno)












