Wisata  

WISATA KAMPUNG KAJOETANGAN HERITAGE KOTA MALANG PERPADUAN SEJARAH, BUDAYA DAN RAMAH MASYARAKATNYA

MALANG – Lebih dari 60 jurnalis dari berbagai media di Indonesia diajak berkunjung ke sebuah kampung yang masih dipertahankan keasliannya di kota Malang.

Moment media gathering bersama Pertamina EP Subholding Upstreams ini menjadi pengalaman menarik bagi jurnalis yang berkunjung ke kampung Kajoetangan.

Kajoetangan, kampung ini berada di pusat kota Malang yang seolah olah terhimpit oleh Modernisasi sebuah kota.

Menyusuri kampung padat penduduk yang masih mempertahankan keaslian bangunan rumah tinggal serta keguyubannya di tengah deraan arus perubahan menjadikan kampung ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat pendatang yang ingin berwisata di kampung yang konon sudah ada sejak era kolonial.

Beberapa jurnalis terkagum dengan masih utuhnya kampung perpaduan budaya dengan nuansa Arab, China, dan masyarakat lokal.

Fuad, salah satu pemandu wisata di kampung Kajoetangan Heritage mengatakan bahwa ikon wisata ini akan magnet wisata favorit di Kota Malang.

Kawasan wisata yang berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat ini menawarkan perpaduan sejarah, budaya, dan suasana perkampungan tempo dulu yang masih terjaga hingga kini.

“Tak heran jika Kampung Heritage Kajoetangan Malang kerap ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara,” kata Fuad.

Memasuki kawasan Kampung Heritage Kajoetangan, pengunjung langsung disambut suasana khas kota lama.

Deretan rumah warga bergaya kolonial, gang-gang sempit yang bersih, serta mural warna-warni menciptakan pengalaman wisata yang berbeda dari kawasan modern kota Malang. Udara sejuk khas Malang membuat aktivitas berjalan kaki menyusuri kampung ini terasa semakin nyaman.

Menurut Fuad, kawasan permukiman warga yang disulap menjadi destinasi wisata berbasis sejarah ini tidak membuat masyarakat yang berada didalamnya tergeserkan.

Meski menjadi objek wisata, kehidupan warga tetap berjalan normal. Pengunjung bisa melihat aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari ibu-ibu yang berjualan, warung kopi rumahan, hingga anak-anak yang bermain di sekitar gang kampung.

“Untuk masuk ke kawasan ini, wisatawan dikenakan tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Dengan harga tersebut, pengunjung sudah bisa menikmati berbagai sudut kampung yang penuh cerita sejarah dan spot foto menarik,” jelas Fuad.

Di dalam kawasan, tersedia beragam fasilitas pendukung seperti toilet umum, kedai kopi, warung makan, hingga toko oleh-oleh khas Malang. Salah satu yang cukup diminati wisatawan adalah keripik tempe dan jajanan tradisional yang dijual oleh warga setempat.

Salah satu titik sejarah penting di Kampung Heritage Kajoetangan adalah makam Mbah Honggo atau Pangeran Honggo Kusumo.

Ia dikenal sebagai guru spiritual keluarga Bupati Malang pertama, RAA Notodiningrat.

Berdasarkan informasi yang disampaikan pemandu wisata bahwa Mbah Honggo memiliki peran penting dalam sejarah Malang pada era awal abad ke-19.

Makam Mbah Honggo berada di area permukiman warga dan masih terawat dengan baik. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri berziarah sekaligus mempelajari sejarah lokal Malang dari tokoh ini.

Ikon lain yang tak kalah populer adalah Tangga Seribu. Tangga ini sering muncul di berbagai unggahan media sosial karena bentuknya yang unik dan fotogenik.

Di sekitar Tangga Seribu, pengunjung dapat menemukan area tempat duduk santai serta pemandangan sungai yang bersih dan tertata rapi.

Aliran sungai di kawasan Kampung Heritage Kajoetangan menjadi bukti keseriusan warga dan pengelola dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Tak hanya menjadi elemen estetika, sungai ini juga menambah kesan alami di tengah kawasan perkotaan,” jelas Aep Saefullah, jurnalis yang ikut dalam kegiatan media gathering bersama Pertamina EP.

Sepanjang kampung, pengunjung akan menjumpai berbagai mural artistik dengan tema sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Mural-mural ini menjadi spot foto favorit wisatawan, terutama generasi muda dan wisatawan asing yang kerap terlihat berkeliling kampung.

Tak hanya mural, bangunan-bangunan lama dengan arsitektur klasik juga menjadi latar foto yang menarik.

“setiap sudut kampung seolah menawarkan cerita dan visual yang berbeda,” kata Irwan Nurudin, mantan jurnalis RRI Cirebon.

Kampung Heritage Kajoetangan ini tercatat sebagai salah satu dari 75 desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.

Penghargaan ini semakin mengukuhkan posisi Kajoetangan sebagai destinasi wisata unggulan Kota Malang yang memiliki daya saing nasional.

Dengan trotoar yang lebar, bersih, serta akses yang mudah dari pusat kota, Kampung Heritage Kajoetangan layak menjadi destinasi wajib saat berlibur ke kota Malang.

Rekomendasi Waktu Berkunjung berdasarkan pengalaman adalah waktu terbaik untuk menjelajahi Kampung Heritage Kajoetangan Malang adalah sore hingga malam hari. Pada waktu tersebut, cuaca lebih sejuk dan suasana kampung terlihat semakin cantik dengan pencahayaan lampu (demush)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *