BANDUNG – Pameran temporer ‘Susur, Alur, Kultur’ Rekam Jejak Kerajaan di Jawa Barat dalam Panggung Sejarah Sunda resmi digelar. Bertempat di Museum Sri Baduga, Rabu 17 Juni 2026, kegiatan dibuka secara langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman.
Pameran ini ditujukan sebagai sarana memperkenalkan alur sejarah kehidupan masyarakat Jawa Barat. Sejumlah bukti peninggalan dan informasi diperlihatkan melalui barang replika koleksi museum, infografis, narasi sejarah, hingga materi visual.
Tak hanya itu, pameran ini juga memadukan teknologi visualisasi dan digitalisasi dalam menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik. Sekda Jabar menilai ini sebagai salah satu upaya dalam menyebarluaskan pemahaman budaya leluhur kepada masyarakat luas.
“Kami baru saja meresmikan Pameran Susur Alur Kultur, perjalanan peradaban masyarakat Sunda. Yang dieksplorasi itu mulai dari Salakanagara, Tarumanagara, kemudian bertransformasi ke Kerajaan Sunda, Galuh, dipertautkan kembali di Padjadjaran sampai bersemi di Sumedang 1579, dan kemudian ke Cirebon,” jelas Sekda Jabar.
Sekda Jabar menyampaikan kepada seluruh kepala dinas dan undangan yang hadir agar memberikan perhatian serius terhadap museum. Karena di dalamnya ada sejarah dan berbagai peninggalan budaya yang sangat berharga.
Negara-negara yang gemilang saat ini, ternyata mereka punya sejarah yang juga gemilang. Ternyata ada korelasi bahwa negara maju, mereka memiliki spirit dari leluhurnya sehingga mereka itu tidak meninggalkan nilai-nilai dari para leluhurnya.
“Tidak ada bangsa yang bisa menjemput masa depan, tanpa memahami hari ini dan tanpa belajar dari masa lalu. Jadi warga Jawa Barat harus memahami itu agar kita bisa maju,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan mengatakan bahwa pameran temporer menjadi salah satu strategi untuk mendekatkan sejarah kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar. Dirinya yakin kegiatan ini menjadi daya tarik baru yang bisa meningkatkan jumlah kunjungan ke museum.
“Pertama tentunya ini menjadi tempat untuk melestarikan warisan-warisan budaya Sunda. Yang kedua untuk tempat pembelajaran, terutama bagi anak-anak dan cucu kita,” kata Kadisparbud Jabar.
“Kita juga sudah mengundang sekolah-sekolah untuk mengajak murid-muridnya, betul-betul studi lapangan. Jadi sebuah pelajaran buat anak-anak kita bagaimana objek pemajuan kebudayaan budaya Sunda ini seperti apa dan untuk apa,” tambahnya.
Lebih jauh, Kadisparbud Jabar menegaskan bahwa pameran ini sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mengangkat kembali kebesaran Sunda, memperkuat jati diri masyarakat Sunda, sekaligus menjaga keberlanjutan budaya di tengah perkembangan zaman (demush)












