CIREBON – Tim Satuan Tugas Khusus ( Satgasus ) untuk Indonesia Thudong 2026 , Laskar Agung Macan Ali Nuswantara ( LMA ), secara resmi dilepas oleh Walikota Cirebon, Effendi Edo yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Pemda Kota Cirebon, Iing Daiman dalam upacara khusus, Senin (18/5 ) yang di ikuti oleh seluruh jajaran bagian di halaman Balaikota Cirebon.
Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Iing Daiman, bahwa Jajaran Pemerintah Daerah serta institusi terkait lainya , merasa bangga di wilayahnya ada komunitas yang berkarya aktif dalam berbagai bidang termasuk gerakan Toleransi yang bukan hanya wacana tetapi dengan realita sampai bergema di dunia Internasional, yang mendapat respon luar biasa serta fenomena.
” Ini sangat luar biasa sekali, sebuah kegiatan sakral dan suci para tokoh umat Buddha dari berbagai negara melakukan ritual yaitu Thudong ( jalan kaki ), berjalan ribuan kilometer, selain umat buddha sendiri yg mem-fasilitasi, ternyata juga dikawal ketat, dilayani, dijaga dengan baik oleh Umat Muslim yaitu Laskar Agung Macan Ali Nuswantara yang berpusat di Cirebon,” jelas sekda kota Cirebon Iing Daiman.
Menurut sekda aktivitas ini sangat viral dan sangat luar biasa serta disorot positif oleh bangsa dan negara di dunia.
“Ini tanpa disadari oleh rekan Laskar Macan Ali, membawa nama baik bangsa Indonesia sebagai bangsa yang toleransi bukan wacana tapi realita,” ujar Iing Daiman.
Lebih lanjut dikatakan bahwa setelah Thudong tahun 2023 dan tahun 2025 yang sukses , di tahun ini ada Thudong lagi dan Laskar Macan Ali kembali dipercaya untuk membantu menyukseskannya.
“Sebagai rasa menghormati dan menghargai karya nyata LMA yang sdh pasti membuat kagum dan bangga, maka keberangkatannya dilakukan secara resmi oleh Walikota Cirebon dan seluruh dunia hadir,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata Iing Daiman Pemkot Cirebon tidak bisa memberikan sesuatu sebagai rasa terima kasih, sampai saat ini pun, teman- teman LMA menggunakan dana sendiri atau masing – masing individu tim satgasus.
“Kami hanya bisa merestui dan memberikan apresiasi kepada LMA dengan upacara pelepasan secara resmi,” ujar Iing Daiman.
Sementara itu Panglima Tinggi Laskar Macan Ali Nuswantara, Prabu Diaz, selaku top leader dan penanggung jawab Tim Satgasus secara resmi menyampaikan kesiapan pemberangkatan Tim Satgasus Laskar Agung Macan Ali Nuswantara untuk mengawal perjalanan spiritual Thudong Waisak 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabu Diaz di Markas Besar Macan Ali Nuswantara di lingkungan Kasepuhan Cirebon, Senin (18/5/2026).
“Hari ini secara resmi Tim Satgasus Laskar Agung Macan Ali Nuswantara diberangkatkan menuju Jepara untuk mengawal perjalanan para Bhante menjalankan Thudong. Ini adalah bentuk pengabdian kami dalam menjaga toleransi dan kemanusiaan,” ujar Prabu Diaz.
Ia mengatakan, perjalanan akan dimulai dari kawasan Candi Sima, Jepara, kemudian melintasi Demak, Semarang, Ungaran, Bawen, Salatiga, Boyolali hingga Klaten menuju kawasan Candi Sewu di kawasan Candi Prambanan dan Candi Plaosan Prambanan Klaten.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kali ketiga dilakukan oleh Laskar Agung Macan Ali Nuswantara bersama Forum Lingkungan Hidup dan Budaya Nusantara setelah sebelumnya turut mengawal perjalanan Thudong tahun 2023 dan 2025.
“Tahun-tahun sebelumnya para Bhante berjalan kaki dari Thailand melintasi Malaysia dan Singapura hingga Indonesia. Tahun ini perjalanan dimulai dari Jepara menuju Borobudur,” katanya.
Prabu Diaz menjelaskan, sebanyak 30 personel Satgasus dan pengawal tetap diterjunkan untuk mendampingi para Bhante selama 11 hari perjalanan. Selain itu, pihaknya juga menurunkan 10 personel tim medis dan pengobatan alternatif.
Seluruh kegiatan pengawalan dilakukan secara mandiri dengan dukungan berbagai fasilitas penunjang modern dan sistem keamanan ketat.
“Kami menyiapkan mobil IT berbasis satelit untuk monitoring perjalanan, CCTV, ambulans VIP, kendaraan counter van dengan fasilitas lengkap seperti tempat tidur, kamar mandi dan sofa, hingga kendaraan logistik yang membawa kebutuhan para Bhante dan pengawal,” jelasnya.
Selain kendaraan logistik, Laskar Macan Ali juga menerjunkan brigade motoris menggunakan empat motor besar sebagai pembuka dan pengawal rombongan selama perjalanan berlangsung.
Bahkan satu unit sepeda listrik disiapkan khusus untuk berada di depan rombongan Bhante demi menjaga kenyamanan perjalanan agar tidak terganggu asap kendaraan bermotor.
“Semua kami mapping secara sistematis dan safety. Personel juga sudah mendapatkan pembekalan terkait etika dan tata cara menghormati para Bhante selama perjalanan,” ungkapnya.
Prabu Diaz menegaskan, kegiatan tersebut tidak memiliki kepentingan politik maupun bisnis, melainkan murni sebagai bentuk nyata menjaga persaudaraan dan toleransi antar umat beragama.
“Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai. Di saat banyak negara dilanda konflik, masyarakat Indonesia justru hidup rukun dan saling menjaga walaupun berbeda keyakinan,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga toleransi dan persatuan demi terciptanya perdamaian dunia.
“Perbedaan jangan dijadikan alasan perpecahan. Justru dengan perbedaan kita belajar saling menghormati dan menjaga perdamaian,” pungkasnya (demush)












