EDUKASI KESEHATAN MENTAL LEWAT DIGITAL, PSIKOLOG SOFIA HALIDA FATMA HUBUNGAN SEHAT DIMULAI DARI MEMAHAMI DIRI
CIREBON – Di era digital saat ini, edukasi mengenai kesehatan mental tidak lagi terbatas di ruang praktik. Hal inilah yang dilakukan oleh Sofia Halida Fatma, seorang psikolog sekaligus content creator yang aktif memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk menyebarkan literasi psikologi.
Melalui YouTube, Instagram, TikTok, hingga LinkedIn, Sofia konsisten membagikan tips motivasi, self-love, hingga kesehatan mental.
Baginya, platform digital bukan sekadar alat pendukung pekerjaan, melainkan jembatan untuk menyampaikan ide-ide yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Salah satu topik yang kerap menarik perhatian audiensnya adalah mengenai dinamika hubungan atau relationship. Menurut Sofia, banyak konflik hubungan muncul karena ketidaksiapan individu dalam mengenali dirinya sendiri.
“Banyak orang minta dimengerti, tapi belum pernah benar-benar belajar memahami diri sendiri,” ungkap psikolog yang berpraktik di Sociamedic Clinic Cirebon tersebut.
Alumni Universitas Muhammadiyah Malang ini juga menyoroti fenomena silent treatment yang sering disalahartikan.
Ia menegaskan bahwa mendiamkan pasangan bukanlah solusi untuk mendapatkan ruang, melainkan cerminan dari emotional avoidant atau penghindaran emosional.
Lebih lanjut, Sofia menjelaskan bahwa cara seseorang menjalin hubungan di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh masa lalunya.
“Attachment itu nyata. Cara kita mencintai hari ini, seringkali adalah hasil bagaimana kita dicintai dulu,” tambahnya.
Oleh karena itu, Sofia menekankan bahwa komunikasi yang sehat adalah fondasi utama untuk membangun kepercayaan dan mempererat ikatan emosional.
Namun, ia menyadari bahwa banyak orang kesulitan berkomunikasi bukan karena enggan, melainkan karena tidak pernah diajarkan caranya.
Bagi perempuan yang memiliki hobi traveling ini, konflik dalam sebuah hubungan tidak harus berakhir dengan perpisahan. Dengan melibatkan empati dan pengaturan emosi, perselisihan justru bisa diubah menjadi keserasian.
“Konflik itu bukan akhir, tapi cara dua orang belajar apakah mereka saling memilih atau saling melukai,” tutur Sofia sembari tersenyum.
Di akhir penjelasannya, Sofia berpesan bahwa kunci utama dari hubungan yang harmonis bukanlah sekadar mencari sosok yang sempurna.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana seseorang bertransformasi menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri yang siap untuk mencintai secara sehat.
Hubungan yang ideal, menurutnya, adalah hubungan yang mampu menghadirkan perasaan bebas tanpa perlu rekayasa, serta jauh dari kegelisahan dan ketakutan yang menghantui (kirno)
