NDRAMAYU – Ratusan nelayan dan juragan yang tergabung dalam Gerakan Nelayan Pantura (GNP) mendesak presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan harga BBM jenis solar yang saat ini harganya hampir menembus Rp 30 ribu perliternya.
Hal tersebut disampaikan nelayan dan juragan dalam mimbar bebas nelayan Pantura yang digelar di TPI Karangsong Indramayu, Senin (4/5).
Ketua Gerakan Nelayan Pantura Kajidin mendesak pemerintah untuk tidak menaikan harga solar non subsidi khusus nelayan yang per hari ini hampir menembus angka Rp 30 ribu perliternya.
Kondisi ini, kata Kajidin sangat berdampak bagı nelayan yang bekerja diatas kapal 30 Gross Gon (GT).
” Hampir dua bulan nelayan tidak bisa bekerja karena harga solar tidak terjangkau. Bila dipaksakan mereka akan rugi besar,” tegas Kajidin.
Kajidin membeberkan saat ini di Pelabuhan Karang Song, lebih dari 200 kapal berukuran besar tidak melaut karena persoalan solar yang harganya terus melambung dan tidak terjangkau oleh nelayan.
Persoalan ini. Kata Kajidin, diperparah dengan rendahnya harga jual ikan hasil tangkap nelayan.
Kajidin memberikan solusi kepada pemerintah agar ada subsidi silang khususnya bagı pemenuhan solar khusus bagi nelayan diatas 30 GT.
Untuk itu, Pihaknya akan bersama sama nelayan se wilayah pantura untuk menemui presiden Prabowo Subianto terkait dilema kenaikan harga solar imbas dari geopolitik di Timur Tengah tersebut.
“Kami sudah sepakat dengan nelayan se wilayah Pantura Jawa untuk menemui presiden terkait harga solar industri yang terus naik. Nelayan bisa mati kalo terus begini,” jelas Kajidin.
Aksi yang diikuti oleh ratusan juragan, anak buah kapal (ABK), dan pengurus Koperasi Perikanan Laut membacakan tuntutan yang akan diajukan kepada Presiden. menteri ESDM, dan Menteri KKP.
“Tuntutan para nelayan ini akan disampaikan kepada presiden melalui bupati Indramayu,” kata Kajidin (demush)












