Budaya  

CENG BENG, MOMENTUM WARGA THIONGHOA CIREBON MEMULIAKAN LELUHUR DAN TERANGI REJEKI

CIREBON – Bagi masyarakat Tionghoa, menghormati leluhur adalah fondasi utama dalam berbakti. Dari empat perayaan besar tahunan—Imlek, Cap Go Meh, Ceng Beng, dan Tiong Ciu Pia—momen Ceng Beng yang jatuh pada tanggal 5 April mendatang seringkali dianggap jauh lebih krusial dibandingkan perayaan lainnya.

Pegiat Budaya Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang, menjelaskan bahwa Ceng Beng atau Qing Ming secara harfiah berarti “Terang Benderang”. Nama ini merujuk pada kondisi makam yang menjadi bersih dan rapi setelah dirawat oleh anak cucunya.

“Banyak warga Tionghoa yang menjadikan perayaan Ceng Beng lebih penting dibandingkan Imlek, karena di sinilah mereka benar-benar memperingati jasa dan bakti kepada leluhur,” ujar Jeremy.

Sepuluh hari sebelum hari puncak, masyarakat melakukan tradisi Te Cua. Ini adalah fase persiapan di mana keluarga bergotong-royong melakukan pembersihan rumput liar di area makam.

Memperbaiki bagian nisan atau bangunan makam yang rusak, mengecat ulang tulisan dan ornamen makam agar kembali indah.

Secara astronomis, Ceng Beng diperingati pada hari ke-15 setelah titik balik matahari musim dingin. Tradisi ini diyakini dicetuskan pertama kali oleh Kaisar Zhu Yuan Zhang.

Di Cirebon, pusat keramaian Ceng Beng biasanya terkonsentrasi di kawasan makam Sentyong dan Kutyong. Tak hanya makam keluarga pribadi, momen ini juga kerap membawa peziarah ke makam tokoh bersejarah.

Salah satunya adalah makam Tan Kim Han, yang diyakini sebagai leluhur dari Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Makam ini selalu menjadi magnet bagi warga keturunan Tionghoa untuk memberikan penghormatan di hari Ceng Beng.

Ada kepercayaan kuat di tengah masyarakat bahwa merawat makam leluhur secara rutin akan berdampak positif pada kehidupan keturunannya.

Kepercayaan untuk membersihkan makam diyakini mampu mencerahkan dan melancarakan rezeki usaha keluarga.

Jeremy Huang menekankan pentingnya pemerintah dan masyarakat menjaga kelestarian makam-makam tua.

“Setiap kota seharusnya melestarikan kuburan leluhurnya,” jelas Jeremy Huang (kirno)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *