CIREBON – Gemuruh suara mesin perahu dan sorak-sorai warga memecah keheningan pesisir utara Cirebon pada Minggu pagi, (19/4).
Ribuan nelayan dari Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, bersama warga Desa Muara, Kecamatan Suranenggala, berkumpul di TPI Mina Waluya Bondet untuk merayakan Nadran—sebuah pesta laut tahunan yang menjadi simbol syukur dan harapan.
Sejak pukul 06.00 WIB, suasana di sepanjang Sungai Bondet berubah menjadi lautan warna. Puluhan perahu nelayan tampil tak biasa, mereka bersolek dengan bendera warna-warni, janur kuning, dan ornamen khas pesisiran yang mencolok.
Perahu-perahu ini bersiap mengawal prosesi sakral, yakni pelarungan sesajen kepala kerbau menuju laut lepas.
Puncak acara terjadi saat sesajen kepala kerbau mulai dilarung ke tengah laut. Suasana yang semula meriah berubah menjadi penuh antusiasme yang kompetitif.
Begitu sesajen dilepaskan, para nelayan segera berebut kain yang menyertainya. Tak hanya itu, banyak dari mereka yang langsung membasuh perahu dengan air laut di sekitar lokasi pelarungan.
“Kami berharap melalui tradisi ini, para nelayan diberikan keberkahan, kesehatan, serta keselamatan saat melaut mencari nafkah,” ujar Roni salah satu warga di lokasi dengan penuh harap.
Ketua KUD TPI Mina Waluya, Rasani, menegaskan bahwa Nadran bukan sekadar seremoni, melainkan perekat silaturahmi antara nelayan Desa Mertasinga dan Desa Muara.
“Ratusan perahu terlibat dalam iring-iringan ini. Ini adalah bentuk syukur kolektif kami atas hasil laut yang melimpah selama setahun terakhir,” ungkap Rasani.
Ia juga menambahkan bahwa agenda rutin ini merupakan cara warga menjaga kearifan lokal tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Untuk menjaga kekhusyukan dan keamanan, petugas gabungan Polri ,TNI telah bersiaga melakukan monitoring sejak pagi hari. Berkat koordinasi yang apik antara panitia dan pihak kepolisian, seluruh rangkaian acara berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif.
Setelah prosesi di laut usai, keramaian berlanjut ke darat. Berbagai hiburan rakyat digelar, menyedot perhatian warga dan wisatawan yang ingin menyaksikan langsung kehangatan budaya Cirebon.
Kini, Sungai Bondet kembali membuktikan perannya—tidak hanya sebagai saksi bisu perjuangan nelayan mencari nafkah, tetapi juga sebagai panggung pelestarian budaya yang tak lekang oleh waktu (kirno)












