Budaya  

MENILIK KESAKRALAN GREBEG SYAWAL KERATON KANOMAN CIREBON, PERPADUAN PAKEM TRADISI DAN ATURAN MORAL

CIREBON – Setiap tanggal 8 Syawal, kompleks Astana Gunung Sembung atau Giri Nur Saptarengga menjadi pusat perhatian ribuan peziarah.

Momentum akbar yang dikenal sebagai Grebeg Syawal ini merupakan tradisi ziarah khusus keluarga Keraton Kanoman ke makam raja-raja dan leluhur, terutama Sunan Gunung Jati.

Ritual ini dipimpin langsung oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Keraton Kanoman, didampingi para Pinangeran (Elang), Keraman, dan Penghulu.

Ada pemandangan langka dalam prosesi ini, yakni dibukanya tujuh pintu yang melapisi makam keramat Sunan Gunung Jati, mulai dari Pintu Pasujudan hingga Pintu Teratai.

Namun, tidak sembarang orang bisa memasuki ke area dalem makam. Pintu Pasujudan akan segera ditutup kembali setelah rombongan keraton masuk.

Berdasarkan pepakem yang berlaku turun-temurun, hanya keturunan garis pancer laki-laki dari Sunan Gunung Jati yang diperkenankan masuk.

“Maksud penutupan ini agar orang luar yang bukan bagian dari dzuriyah garis pancer laki-laki tidak ikut masuk, sesuai aturan yang berlaku,” Ujar juru bicara keraton Kanoman Ratu Raja Arimbi Nurtina, S.T. M.Hum.

Aturan ini memiliki latar belakang sejarah yang kuat. Pada abad ke-15, lokasi ini adalah kediaman pribadi dan pesantren Sunan Gunung Jati, yang kemudian menjadi tempat perlindungan para pangeran dari kejaran VOC pada abad ke-17.

Catatan kolonial Belanda, Uit Cheribins Geschiedenis, bahkan mencatat adanya konsekuensi fatal bagi mereka yang memaksa masuk tanpa izin, seperti yang dialami tentara Jacob Couper.

Menariknya, kualifikasi untuk mengikuti Grebeg Syawal tidak hanya bersandar pada gelar kebangsawanan seperti Pangeran atau Elang. Ada “aturan moral” atau pakem spiritualitas yang harus dijalani, yakni melaksanakan puasa Sunnah Syawal selama enam hari (2-7 Syawal).

Bagi Sultan dan para Pinangeran, 1 Syawal bukanlah akhir dari perjuangan spiritual. Mereka menyempurnakan ibadah wajib dengan puasa sunnah, dan baru pada 8 Syawal mereka merayakan kemenangan yang sesungguhnya melalui Grebeg Syawal.

“Grebeg Syawal sekaligus menjadi momentum buka puasa syawal dengan hidangan utama kupat. Di lingkungan pesantren seperti Buntet, ini dikenal sebagai ‘Raya Kupat’, sementara di Benda Kerep disebut ‘Syawalan’,” lanjut Ratu Raja Arimbi Nurtina, S.T. M.Hum

Di tengah gempuran tren media sosial, Keraton Kanoman tetap menegaskan bahwa area dalem kompleks makam bukanlah tempat rekreasi. Larangan mendokumentasikan atau memamerkan area dalam makam di media sosial tetap dijaga ketat demi menjaga kesakralan dan marwah tempat tersebut.

Hingga saat ini, di bawah kepemimpinan Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Anom XII), tradisi ini terus dijaga. Sang Sultan sendiri disebut masih konsisten menjalankan puasa Syawal sebagai bentuk komitmen terhadap warisan leluhur dan sunnah Nabi SAW.

Melalui Grebeg Syawal, Keraton Kanoman tidak hanya melestarikan ritual ziarah, tetapi juga mengajarkan tentang kedisiplinan spiritual dan penghormatan mendalam terhadap garis keturunan serta sejarah panjang Cirebon (nono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *