Budaya  

FENOMENA PENYAPU UANG DI JEMBATAN SEWO PERBATASAN INDRAMAYU – SUBANG, ANTARA TRADISI DAN KEBUTUHAN EKONOMI

Fenomena penyapu uang di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat kembali menjadi sorotan publik, terutama menjelang arus mudik Lebaran.

Aktivitas ini banyak ditemui di wilayah Sewoharjo, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang hingga Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.

Keberadaan para penyapu uang ini kerap menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi dianggap sebagai tradisi, namun di sisi lain dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan karena berpotensi memicu kecelakaan serta menyebabkan kemacetan.

Para penyapu uang biasanya berdiri di bahu jalan sambil membawa sapu lidi panjang. Mereka menunggu pengendara yang melintas melempar uang recehan atau bahkan uang kertas, lalu dengan sigap menyapu uang tersebut ke pinggir jalan. Aksi saling berebut uang ini kerap membuat situasi lalu lintas menjadi tidak kondusif.

Berdasarkan penelusuran, asal usul penyapu uang di Subang Indramayu tidak lepas dari tradisi sosial-budaya yang berkembang di Jembatan Sewo sebuah jalur penghubung penting antara dua wilayah indrmayu dan subang.

Tradisi ini disebut berakar dari legenda lokal tentang Saedah dan Saeni, kakak beradik yang konon berubah menjadi buaya putih setelah menceburkan diri ke sungai di sekitar jembatan. Kisah ini kemudian melahirkan nuansa mistis yang dipercaya sebagian masyarakat setempat.

Kepercayaan tersebut berkembang menjadi kebiasaan melempar uang sebagai bentuk sedekah atau penghormatan kepada “penunggu” sungai. Tujuannya agar para pengendara diberi keselamatan saat melintasi jalur Pantura yang dikenal rawan kecelakaan.

Tradisi “tawur duit” ini pun terus berlangsung hingga kini. Namun seiring waktu, praktik tersebut mengalami pergeseran makna.

Awalnya hanya sebatas ritual atau kepercayaan, kini fenomena tersebut berkembang menjadi aktivitas ekonomi bagi sebagian masyarakat. Para penyapu uang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga lansia, yang mayoritas berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Dengan memanfaatkan momen, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran, jumlah penyapu uang bisa meningkat drastis. Bahkan ratusan orang dapat berjejer di sepanjang jalan dekat Jembatan Sewo untuk mengais rezeki dari uang yang dilempar pengendara.

Penggunaan sapu lidi dengan tangkai panjang menjadi alat utama mereka agar bisa mengumpulkan uang tanpa harus terlalu lama berada di tengah jalan yang padat kendaraan.

Meski dianggap sebagai sumber penghasilan, aktivitas ini tidak lepas dari risiko besar. Selain membahayakan keselamatan para penyapu uang sendiri, tindakan tersebut juga dapat mengganggu pengguna jalan lain.

Lonjakan jumlah penyapu uang saat musim mudik semakin memperbesar potensi kecelakaan dan kemacetan di jalur Pantura yang memang sudah padat.

Fenomena ini pun terus menjadi perhatian berbagai pihak, terutama terkait upaya penertiban dan edukasi kepada masyarakat agar tradisi yang ada tidak berujung pada risiko keselamatan (Sahrul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *